ADEGAN II

Sepi, Sepeninggal Bimasena dan Janaka. Tanpa diduga Permaisuri Prabu Puntadewa, Dewi Wara Drupadi, datang dengan tergopoh.

“Aduh…. Kangmas Prabu…!”

Berteriak dan berlari, seolah “lupa diri” bahwa Ia Permaisuri Raja. Pasowanan masih ada tamu, walau itu saudara dan keponakan. Rasa tidak malu dan lupa jati diri bisa hinggap pada siapa saja. Manungsa wenang Lali (Manusia punya “hak” lupa). Permaisuri datang dan mendekap erat sang Prabu, seraya berkata:

“Duh Kangmas Prabu.. Paduka menjadi contoh Nalendra sejagad, sabdanya menjadi rahayu pada setiap rakyat. Tapi kenapa? Sekarang Kangmas Prabu hanya bisa ragu, ’Menang-meneng, menang-mening, menang-menung kadya reca tugu mulat, cumplung kebak enthung’ (Mengutamakan diam, hening dan merenung seperti Arca Tugu bingung penuh kepompong).”

ADEGAN I

Sekar Girisa

Aja nakurang panarima

Ing Pepesthening sarira

Yen saking Hyang maha mulya

Kang nitahken badanira

Lawan dipun awaspadha

Asor unggul waras lara

Utawa beja cilaka

Urip utawa antaka

Jangan kurang bersyukur

Terhadap apa yang menjadi takdirmu

Kalau dari Tuhan yang Maha Mulya

Yang menciptakan dirimu

Menjadikan tindakan yang hati-hati

Kalah-Menang, Sehat-Sakit

Atau Keberuntungan-Kesengsaraan

Hidup atau Mati

Kelompok Watak yang pertama, Watak Hina yaitu watak yang selalu meminta baik cara kasar: merampas dan menggasak atau cara halus. Watak yang malas, sombong, membuat susah sesama manusia dan lingkungan termasuk Bumi seisinya.

Watak yang kedua adalah Watak Madya Prasaja, Watak para Tani, Pedagang, Tukang, Ahli dan lainya yang sejatinya selalu mengupayakan rejeki yang berguna yang bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan terutama bagi negara.

Watak ketiga, Watak Satriya terpercaya, Watak para nayaka praja, pengasuh bangsa dan tentara negara yang selalu mengukir Budi, membenteng ”kardi” yang sudah menjadi ”Sesanggeman” atau ”Baju” untuk kepentingan Kokohnya Persatuan Bangsa dan Negara. Sedangkan wujud apa yang diperoleh, diserahkan pada Yang Maha Kuasa berdasar rasa percaya, Takut dan Asih bela negara sebagai sarana wujud bakti, yang bersikap ”Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe” (Bekerja Giat tanpa Pamrih), Ma’rifating Ma’rifat (Membuka jalan Ma’rifat Sejati).

Watak terakhir, keempat adalah Watak Brahmana Luhur. Watak para resi, begawan, pandita, sufi yang sejatinya selalu waspada budi, teliti, hati-hati, halus hati dan menolak pemberian dalam bentuk apapun.

BISMILLAHIRRAHMANNIRAHIIM

Manusia sesungguhnya penuh dengan kerugian bila waktu yang dimiliki tidak digunakan sebaik-baiknya berbuat. Perbuatan tentu sangat bergantung pada niatan dalam hidup itu sendiri. Niat itupun bisa tak berbekas, bila sang punya niatan tidak sungguh-sungguh menjalani dan memaknai setiap niatan itu. Maksud dari memaknai setiap niatan, tentu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan (Qudratullah) dan Sunnatullah (sesuai aturan Tuhan).

Kejadian dalam hidup ini, mau tidak mau selalu mengundang rasa iman yang membuncah dan rasa iman yang tiba-tiba hilang dalam sekejap atau berkepanjangan, seiring seperti nafas manusia. Tubuh membutuhkan hirupan nafas benar. Dihirup untuk membutuhkan zat-zat yang dibutuhkan tubuh, kemudian dihembuskan untuk membuang zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh ini. Prinsip manusia yang masih membutuhkan dan tidak membutuhkan inilah yang menyebabkan naik turunnya keimanan. Bahkan sulit mencapai atau mencontoh yang paling sederhana yaitu:

PRAWACANA

Hong ilaheng
Hong ilaheng awigena mastu nama sidhem
Awigena mastu silah mring hyang jagad karana
Sirantandha kawisesaning bisana
Sana sinawung langen wilapa estu
maksih lestantun lampahing budya
jinatur tutur katela tela tulat mrih lapdeng paradya
winursita ngupama parameng niskara
karana dya tumeyeng jaman purwa
winisuda trah ingkang dinama dama pinardi tameng lelata
mangkya tekap wasananing gupita
tan wun renggeng pralambang hatumpa-tumpa
panggung panggeng panggunggung sang murweng kata

Oleh : Haryo K. Buwono

Menjelang akhir ramadhan selalu banyak yang beri’tiqaf di masjid. Niatannya macam-macam, ada yang ingin berintrospeksi diri dalam perenungan batin, ada pula yang ingin mendapatkan lailatul qadr (malam istimewa dari 1000 bulan). Apakah Tuhan menurunkan lailatul qadr di Malam hari pada satu masa? Kalau malam hari di Indonesia bukan berarti malam di belahan bumi sisi yang lain. Jadi lail disini apakah masih identik dengan malam kalau diturunkan pada satu masa? Ataukah Lailatul Qadar ini hanya bisa dinikmati oleh orang-orang “tertentu” dimana kekhusukkan beribadah dalam konteks perenungannya memang “ikhlas” untuk Tuhan semata, sehingga “surgaNya” terhembus pada “saat” itu. Ketika “SurgaNya” terhirup oleh yang penuh keikhlasan saat menjalani masa i’tiqaf, maka rasanya seperti 1000 bulan rizkiNya.