Makne…

Esuk-esuk wis udreg-udregan

Ngomel-ngomel kentekan beras

Misah-misuh nggolek munthu ra ketemu

Makne…

Awan-awan wis dandan ayu

kethap-kethip ning ngarep koco

Wedhak Pupur nggo ngolek duwit

Puisi untuk Seorang Suami beristeri Pelacur

“Seorang pelacur, ketika hendak mencari jalan kebenaran, yang sebelum matinya, sempat memberikan separuh makanan yang ada ditangannya untuk anjing yang sedang sekarat. Tuhan mengangkat derajat pelacur itu yang tertinggi, untuk dimasukkan dalam surga”. Cerita tersebut menggambarkan, pelacur yang dalam hidupnya, notabene penuh kekotoran, tetapi dimasukkan surga karena sempat mencari kebenaran, juga dalam dirinya tersimpan jiwa yang penuh cinta kasih.

Jiwa saya terkadang tidak tersentuh. Saya bahkan sering mengasihani diri saya sendiri, bahwa ternyata perintah sholat itu hanya untuk “jengkang-jengking” saja. Dan, belum pada esensi sholat itu sendiri sesuai perintah Tuhan. Maka saya merasa perlu untuk menyelipkan sedikit waktu untuk berdiam diri, untuk sekedar diam saja atau berbicara dengan diri sendiri. Saya pernah dikatakan sebagai yang tidak islami. Menurut saya, pendewasaan perlu hantaman kritikan, bukan sekedar aman. Rasa aman malah biasanya melengahkan.

Setiap hari ditelevisi disuguhkan berita yang “mendidik”. Mendidik manusia untuk berlaku curang, jahat dan tidak amanah. Mulai dari berita Korupsi, membohongi publik, hingga melukai hati rakyat. Pejabat yang nota bene disumpah dengan Kitab Suci, tetap saja melakukan pengkhianatan terhadap apa yang sudah diyakininya. Bahkan kitab suci dan Tuhannyapun dibawa-bawa saat berlaku “keblinger”.

Jabatan atau pekerjaan apapun itu, yang sudah selayaknya berupa amanah, menjadi macam-macam istilah, mulai dari Koruptor, hingga markonah (ini istilah yang saya pakai menggabungkan “markus” yang “amanah”). Menjadi seorang makelar kasus (markus) yang sangat “amanah” pada koruptor untuk mencuci uang dan memenangkan kasusnya. Mereka seolah sedang “pingsan” (berlaku dibawah sadar) atas semua yang telah berjanji dibawah sumpah jabatan. Ataukah kerena sumpah jabatan itu hanya bersifat simbolis? Sumpah kok simbolis? Ya, mereka disumpah dengan kitab suci yang tidak dilihatnya. Coba perhatikan saat mereka disumpah Kitabnya ada disamping kanan atau dibelakang yang membaca sumpah walau kitabnya diangkat diatas kepala yang disumpah. Pemandangan “natural” di Bumi Nusantara!

by Haryo K. Buwono

walaw annahum shabaruu hattaa takhruja ilayhim lakaana khayran lahum waallaahu ghafuurun rahiimun

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sesuai dengan kelanjutan dari ayat yang ke empat, bahwa ayat yang ke lima ini menegaskan bahwa manusia sudah selayaknya bersabar. Ayat ini juga menyatakan tentang kata sabar dan keluar menemui mereka, yang dalam beberapa tafsir menyatakan tentang kejadian Muhammad menemui orang-orang yang memanggil itu. Namun dibalik makna kejadian tersebut, ada yang lebih dari sekedar makna kejadian, yaitu makna bersabar.
Sabar adalah kegiatan yang gampang diucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan. Sulit disini diartikan bila manusia tersebut masih mengedepankan ke-Aku-annya (egosentris). Tahapan manusia mampu bersabar adalah:

1. Memikirkan bahwa Allah Maha Besar sedang manusia adalah ciptaanNya,
2. Kebenaran hanya milik Allah, bukan pribadi atau diri masing-masing,
3. Memikirkan setiap kejadian adalah rentetan kejadian dimasa lalu,
4. Menempatkan “Rasa” diatas nafsu.
5. Memikirkan bahwa Allah memiliki Qodar tidak hanya Sunatullah.

Oleh : Haryo K. Buwono

Saya menulis ini terinspirasi dari film Hongkong yang mengingatkan saya pada masa lalu yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Kenapa setiap orang harus mati saat bahagia itu menghinggapi? Apakah Tuhan memang senang bermain-main dengan 2 hal itu? Waktu kadang sulit ditebak untuk apa menit ke satu diciptakan untuk menempuh menit ke sepuluh? Sedangkan saat menit ke satu itu adalah saat kebahagiaan yang melangit, sedangkan menit kesepuluh adalah menciptakan kenangan kenangan kebahagian dimasa sedih. Sulit membayangkan mengapa manusia harus melampaui ini untuk bertemu dengan Mu, ya Allah?

Masa susah dilalui setelah masa bahagia demikian juga sebaliknya. Manusia selalu berharap detik demi detik menciptakan harapan apakah kesedihan ini akan berakhir atau sebaliknya. Harapan, menempa manusia untuk menjadi yang terbaik. Sama saat menciptakan origami pesawat, yang dicipta dengan harapan bisa terbang jauh dan lama melayang diudara, namun seberapa lama terbang dan jauhnya pada akhirnya akan jatuh ke tanah juga. Kalau melihat bahwa manusia terbang di dunia sejauh apapun waktunya, tetap harus berhenti dalam menit-menit penuh harapan. Harapan yang terindah adalah menjadi pesawat origami yang bisa terbang indah seberapa pendekpun waktunya, bisa membahagiakan yang menerbangkannya atau yang menciptanya. Jika dalam matematika ada fungsi waktu entah dalam integral atau limit, dan manusia berada dalam sistem waktu itu, siapkah manusia berbahagia pada masa bahagia ataupun bahagia dimasa sedih?

Oleh: Haryo K. Buwono

Ketika berdialog dengan beberapa teman, dan handai taulan, yang seketika itu terbentur oleh “keberadaan suatu kesalahan”, diakhiri dengan kata-kata “Itu Manusiawi!”. Kalau orang jawa bilang ketika sedang salah maka langsung dibilang “Menungsa wenang salah” (Manusia tempatnya salah). Tetapi apakah kesalahan itu dipelihara karena “masih” manusia, ataukah diminimalisasi?

Tuhan memang menciptakan manusia adalah sesempurnanya makhluk ciptaanNya, yang tidak dimiliki oleh Malaikat dan Iblis (disinilah Tuhan menyuruh Malaikat dan Iblis bersujud pada manusia). Manusia terbuat dari Alam dan dzat Ketuhanan. Alam adalah Tanah dan Dzat Ketuhanan adalah Ruh. Manusia juga ditempatkan diasal muasalnya tanah itu yaitu Bumi, dimana Bumi selalu mengalami Siang dan Malam. Jika Siang diasumsikan sebagai Kebaikan dan Malam sebagai Keburukan, atau asumsi sebaliknya, maka manusia mengalami keduanya. Manusia juga mengambil/menghirup udara (O2) yang dibutuhkan tubuh dan membuang CO2 yang tidak dibutuhkannya. Manusia juga mengkonsumsi makanan yang halal dan membuangnya ketika sudah diproses tubuh melalui veses. Manusia juga diwajibkan mencari kebaikan dan “belajar” dari keburukan! Kok keburukan dipakai sebagai belajar?

by Haryo K. Buwono

inna alladziina yunaaduunaka min waraa-i alhujuraati aktsaruhum laa ya’qiluuna

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.”

Pernyataan tentang memanggil diluar kamar, sangat erat hubungannya dengan sesuatu perumpamaan, terlepas dari tafsir-tafsir yang telah ada. Perumpamaan ini sangatlah erat kaitannya dengan ayat sebelumnya yaitu tentang hati dan tubuh ini. Kamar atau bilik yang telah menjadi judul pada surat ini tentu berkait dengan badan sebuah Surat dalam Al Quran. Penafsiran akibat perumamaan adalah setiap tubuh manusia memiliki bilik-bilik, mulai dari jantung yang memiliki 4 bilik (Right Atrium, right ventricle, left atrium dan left ventricle), hati memiliki 2 bilik (Right Lobe/Hati Besar dan Left Lobe/Hati Kecil). Ginjal juga memiliki 3 bilik (Cortex, Medulla dan Calyses), dimana fungsi ginjal sebagai penyaring/filter ini tentu berat memfilternya, bila memiliki 1 bilik saja. Begitu juga dengan otak yang lebih dikenal dengan otak besar dan otak kecil, walaupun sebenarnya karena bersifat prosessor tentu sebenarnya bisa dirinci dalam beberapa bilik. Tubuh manusiapun sama halnya, disesuaikan dalam pembagian otak, yaitu tubuh bagian kanan dan tubuh bagian kiri walaupun sulit dibedakan pembatasnya antara keduanya.

Kalau kembali pada ayat ke tiga dari surat Al Hujurat ini, yang difokuskan adalah pada bilik hati, Hati manusia sulit dtebak karena itu tempatya rasa atau ‘ars. Manusia menampakkan wajah kebahagiaan walaupun hatinya sedih. Manusia juga mampu menampilkan kesedihan walaupun kegembiraan ada dibalik hatinya. Manusia bahkan lebih senang dengan penampakan luaran walau hatinya berbeda. Manusia mampu memanggil dari luarnya, walau tidak mengerti dalamnya. Tuhan menuntut manusia sama antara luar dan dalam. Sehingga kewajaran yang bersifat Nol itulah yang selalu terlihat disisi manusia yang lain. Ketika manusia mampu menunjukkan kewajaran, maka disaat itulah Tuhan berada disana. Tuhan dekat dengan hati manusia yang tidak memiliki multi arti. Tuhan menyatu dengan manusia bila hati kecil adalah wakil dari penampakan tubuh sejati dan watak sejati.

Manusia yang merendahkan suaranya disisi Rasulullah dapat diartikan sebagai rendah hati. Kebalikan dari tinggi hati atau sombong seperti ayat 2. Rendah hati sangat beda dengan rendah diri. Rendah diri ini banyak identik dengan kesombongan yang tersamarkan. Artinya banyak yang berusaha merendahkan diri tetapi menaikkan mutu diri. Kebanyakan manusia itu suka dipuji. Biasanya setelah dipuji itu selalu menjawab lawan kalimat