GORESAN TANPA MAKNA

Untuk Sebuah goresan tanpa makna…
Untuk Kendaraan yang mungkin sebentar lagi terjual…
Untuk Pribadi yang selamanya tidak mampu memiliki Ruh dalam Diri…
Untuk Kefanaan dalam Kesunyaan…

AKULAH YANG MENCIPTA SURGA DAN NERAKA!

Surga dan Neraka adalah kita yang menciptakan! Bila sedang dalam “berkelebihan” tapi merasa serba “kekurangan” maka kita sedang mencipta Neraka. Begitu juga sebaliknya. Maka ini bisa merasakan betapa Shirratal Mustaqim itu Jalan yang sangat lebar sekali, lega dan tiada penghalang!

ORANG BAIK

Manusia yang mengaku “Orang Baik” harusnya mensyukuri dimana disekitarnya masih ada yang dianggap “Orang Jahat”. Simbiosis mutualisma, Orang baik membutuhkan orang jahat. Bagaimana bisa disebut Orang baik bila semuanya Orang Baik?

Ketika sehabis rapat “Detikan”, 4 Malaikat masih kumpul membicarakan tentang manusia. Walau kesannya tidak penting tapi pembicaraan itu sangat hangat dan Akrab.

Malaikat I angkat bicara “Kenapa manusia hanya memilih sesuatu yang disukai saja, padahal Tuhan punya Kebahagiaan sekaligus Kesedihan, punya kemenangan sekaligus kekalahan, dan Tuhan punya Surga dan Neraka?”

Malaikat II menjawab, “Yah begitulah manusia, Ketika diberi oleh Tuhan hal yang buruk maka kecewa lalu mengeluh, dan ketika diberi oleh Tuhan yang sesuai doanya, lupa bersyukur.”

Malaikat III bilang, “Ah itu khan Manusiawi!”

Serat kagem Surat

Duh gusti
Ampuni pikiranku
Ampuni jemariku

Ampun gusti
Pikiranku tlah hantar jemariku
Tlah tulis surat untuk Surat

Mohon gusti
Sampaikan surat ini untuk surat
Sungguh hamba malu

Suratku untuk Surat:

Aku ingin jadi manusia sejati
Aku ingin tegakkan panji Negara
Aku ingin jadikan penerusku Merdeka
Aku ingin Wurung Galih

Selama aku punya ingin
Apa itu tanda hidup ?
Bila aku tak punya ingin
Apa aku semakin dekat dengan MU ?

Ketika ingin dan ingin itu ada
Semakin menyeruak nafsuku
Ketika ingin dan tidak ingin bersamaan ada
Semakin terasa manusiaku
Ketika hanya ada tidak ingin
Aku mungkin sudah bersatu dengan MU

Surat, Bapakku..
Andai kau sudah disisiNya
Tolong bisikkan padaNya
Bahwa aku anakmu sedang berupaya
Mencari wejanganmu yang belum tertatah
Dalam hidup dan kehidupan

Dalam budaya Nusantara ini dikenal pada pewayangan,seorang satriya menjalankan aktifitasnya sebagai satriya, pandita sebagai pandita, raja sebagai raja, tidak bercampur. Contoh ini ada di Pandawa, dimana ketentraman jiwa ada disana. Berbeda sekali dengan Kurawa. Prinsipnya adalah “boleh bergabung, tetapi tidak bercampur”. Dalam pemerintahanpun berlaku berbagi keahlian, dan penggabungan diantaranya memberikan “Kekuatan”. Berbeda bila bercampur. Polisi menjadi koruptor, lalu siapa yang menangkap koruptornya polisi itu? Gusti Allah paringana ngapura!

Muhammad adalah contoh yang “manusiawi”. Saat kecil, berlaku seperti layaknya anak-anak, ketika remaja hingga menjelang dewasa adalah remaja yang tumbuh sebagai remaja yang “dipercaya”. Saat Dewasa berdagang dengan sifat amanah dan jujur.Diusia 40 tahun barulah menemukan Tuhannya. Prosesnya Natural sekali, namun punya niatan ingin memperbaiki fungsi dalam hidup yang hanya fana itu. Setelah usia 40 tahun itu, Muhammad SAW berusaha melepas semua atribut yang selama ini melekat dalam dirinya yaitu selaku pedagang.

Seorang Anak berusia 5 Tahun bertanya pada bapaknya, “Dimana Tuhan itu berada?” Tentu saja sang Bapak kelabakan, sebab bapaknya sendiri tidak pernah bertemu dengan Tuhannya. Bapaknya menjawab dengan galak, “Hus! Nanya kok yang aneh-aneh!”. Lanjut sang Bapak lagi, “Ya Tuhan itu ada di atas sana!”. Anaknya makin bingung, sebab yang disampaikan bapaknya berupa definisi yang tidak dimengerti si anak. Diawali dari marah, lalu di atas sana. Dalam benak si anak tentu menyatakan, wah Tuhan ini menakutkan ya, sampai si Bapak marah ketika ditanya keberadaannya. Dan jawaban sang Bapak selanjutnya mengandung pernyataan yang bakal sama dengan pertanyaan sebelumnya, yaitu “di atas sana!”. Nah, dimana lagi itu?

Orang tua sering takut dengan pertanyaan dan pernyataan tentang keberadaan Tuhan itu, walau di Al Quran banyak mengungkapkan keberadaan Sang Khaliq ini. Orang tua ini marah karena “Ketidaktahuan”, sebab Syahadat yang dibaca “hanya” sampai sebatas mulut, sholat yang dilakukan hanya sebatas “netepi kewajiban” (membatalkan Kewajiban itu), dan ibadah yang lain juga sama, sebatas tiru-tiru tidak jelas juntrungnya. Pada akhirnya Tuhannya itu yang diminta menyiapkan Kalkulator untuk semua amalan-amalan yang mengedepankan Pahala atau “reward”. Makanya orang tua itu tidak bakal kenal dengan Tuhannya.

Dalam pertemuan itu dikatakan: Wahai Wrekudara, kamu adalah Insan yang Patuh dengan Guru, itu luar biasa!”. Lanjutnya lagi: “Dalam mencari kesempurnaan diri itu harus melalui: “Jangan pergi bila belum jelas maksudnya, jangan makan bila belum tahu rasa yang dimakan, janganlah berpakaian bila belum tahu nama pakaianmu. Kau bisa tahu dari bertanya, dan dengan meniru juga, jadi dengan dilaksanakan, demikian dalam hidup, ada orang bodoh dari gunung akan membeli emas, oleh tukang emas diberi kertas kuning dikira emas mulia. Demikian pula orang berguru, bila belum paham, akan tempat yang harus disembah, maka tersesatlah!”

Kecintaan sejati sebenarnya seperti sedang “mabuk” cinta, tidak peduli dan tidak takut dibilang gila. Coba perhatikan bila Romeo yang mabuk kepayang pada si cantik Juliet, apa yang dilakukannya sangat tidak realistis. Haruskah demikan, Cinta manusia pada Dunia? Ataukah Cintanya pada Tuhan? Ketika manusia memilih untuk mencintai dunia, maka memiliki kecenderungan Keagungan Tuhan mampu ditukar dengan uang receh. Tidak takut korupsi, tidak takut berbohong bahkan tidak takut menistakan diri. Sehingga ketika ditanya sudah siapkah anda mati saat itu? Jawabannya selalu “aku harus bersiap dahulu, namun aku harus selesaikan urusan dunia”ku” dulu”. Ketika sudah selesai urusan “keduniaan”, maka ada alasan lain untuk tidak mensegerakan menghadapnya dengan kata-kata, “Wah aku harus bersuci dahulu” dan seterusnya, yang pada akhirnya menjadi tidak sempat menemui wajah Tuhannya!

Manusia saat lahir mungkin tidak merasakan kepemilikan apapun, sebab yang dibutuhkan “manusia baru” adalah kasih sayang. Kasih dan sayang ini sebetulnya yang diminta Tuhan pada manusia. Tidak ada yang kekal abadi, kecuali Bismillahirrahmanirrahim, atas nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sehingga untuk mengkekalkan hidup manusia, adalah dengan “berpikir dan bertindak” selayaknya ucapan yang terkandung dalam “Basmallah” tadi. Jika diawali dengan kasih sayang, tentulah yang dijalankan menjadi sejalan dengan doa. Sejalan dengan doa, itu tidak identik dengan Tuhan tidak boleh memberikan (yang dianggap manusia) sebuah kesialan. Kesialan hari ini tentu tidak berbanding lurus dengan esok hari. Maka manusia diwajibkan memiliki hak untuk berkasih sayang pada sesama manusia hingga alam sekitar, agar manusia bisa nyata-nyata meninggalkan nama. Apakah demikian?

Ketika hidup ini wajar, maka wajarlah kalau hidup

Hidup itu hari ini, Hari ini kalau orang londo bilang Present

Present artinya juga hadiah, Hadiah bagi yang bersyukur

Jadi kalau kita mensyukuri hidup hari ini, maka mendapatkan Hadiah

Hadiah apa itu?

Hadiah hidup yang mampu melayani,

Melayani siapa itu?

Melayani seluruh alam semesta titipanNya.

Lalu Hari Kemarin atau lampau itu apa?

Hari Kemarin adalah bayangan

Bayangan tentang kebaikan dan keburukan

Sesuatu yang tidak akan pernah mampu diulang kembali

Kalau Besok?

Metode yang kedua adalah bukan “hanya” memilih berita yang disukai saja. Arti dari pernyataan tersebut adalah sikap jujur diutamakan. Berita tidak tebang pilih, berita adalah kebenaran sejati. Berarti bila manusia hanya suka pada yang disukai, maka data informasinya menjadi Like and dislike. Tidak kapabelnya informasi yang diolah karena manusia mensortir yang disukai saja bisa berdampak bertentangan atau berhadap-hadapan dengan yang tidak suka berita tersebut. Kata “jujur” dalam mengolah berita adalah sepahit apapun berita itu maka harus disampaikan, tetapi dengan hati-hati. Duga prayoga (Hati-hati lebih utama) dan “bila perlu” Dora sambada (berbohong yang sewajarnya). Maksud dari Duga Prayoga adalah menyampaikan atau mengolah suatu berita harus hati-hati. Sedangkan Dora Sembada diperlukan bila menceritakan sebuah kejadian yang menyengsarakan dan sangat pahit bila didengar, dilihat atau dibaca. Misalnya Seorang anak manusia mengalami kecelakaan dan isi kepalanya berhamburan, si penyampai berita tentu sedikit berbohong kepada orangtua si anak tersebut dengan cerita yang benar tetapi tidak perlu menceritakan detailnya.