Ketika mendengarkan cerita tentang Rahwana dalam Pupuh Ramayana, tentu kita selalu berkonotasi negatif karena sikapnya yang telah menculik Dewi Sinta dari Si Rama Wijaya. Semua tentu sepakat tentang cerita itu atas segala kejahatan Rahwana. Anggapan itu terus terang Keliru. Tokoh yang sepatutnya ditiru bukanlah Rama Wijaya, melainkan Rahwana. Lho Kenapa?

 title= Anak Kunti Nalibrata yang ke empat adalah Janaka. Janaka ini digambarkan sesuatu yang indah, menarik dan mendambakan. Keindahan Janaka ini digambarkan seolah semua wanita di Jagad berniat memilikinya, termasuk diantaranya isteri dari Puntadewa, Drupadi. Walaupun sudah bersuami dari kakak Kandungnya, namun jiwanya tetap mencintai Janaka. Janaka adalah diambil dari kata JANAH. Janah artinya Surga / Swarga. Janah ini hinggap di dalam Pikiran / Benak. Sesungguhnya bila Tubuh ini (Wrekudara dan Puntadewa) saja tanpa Janaka tentu tidak akan pinga “keinginan” / nafsu. Janaka yang digambarkan indah ini, tentulah yang banyak disukai wanita. Ya, wanita ini adalah bagian dari keindahan maka tidak salah bila wanita menyukai Keindahan dan mendambakan, bahkan dengan menempuh “bagaimanapun caranya”. Janah ini tempat yang indah, maka Janaka digambarkan seperti Lanange Jagad. Falsafah yang diambil dari Konsep Janaka ini adalah Kreatifitas yang berazas ilmu pengetahuan. Maka penggambaran, pola pikir dan kreasi terletak pada suatu tempat yang disebut jaringan otak. Tanpa penggerak otak maka manusia tidak bisa disebut hidup. Hidup tanpa kreasi, tanpa seni, maka bukan disebut hidup. Hidup artinya bermakna. Bagaimana bisa bermakna, bila manusia mampu ber- cipta, rasa, karsa. Berguna bagi sesama. Dan disinilah tercipta Surga-surga (angan-angan serba indah) dan berusaha mewujudkannya.

ADEGAN II

Sepi, Sepeninggal Bimasena dan Janaka. Tanpa diduga Permaisuri Prabu Puntadewa, Dewi Wara Drupadi, datang dengan tergopoh.

“Aduh…. Kangmas Prabu…!”

Berteriak dan berlari, seolah “lupa diri” bahwa Ia Permaisuri Raja. Pasowanan masih ada tamu, walau itu saudara dan keponakan. Rasa tidak malu dan lupa jati diri bisa hinggap pada siapa saja. Manungsa wenang Lali (Manusia punya “hak” lupa). Permaisuri datang dan mendekap erat sang Prabu, seraya berkata:

“Duh Kangmas Prabu.. Paduka menjadi contoh Nalendra sejagad, sabdanya menjadi rahayu pada setiap rakyat. Tapi kenapa? Sekarang Kangmas Prabu hanya bisa ragu, ’Menang-meneng, menang-mening, menang-menung kadya reca tugu mulat, cumplung kebak enthung’ (Mengutamakan diam, hening dan merenung seperti Arca Tugu bingung penuh kepompong).”

ADEGAN I

Sekar Girisa

Aja nakurang panarima

Ing Pepesthening sarira

Yen saking Hyang maha mulya

Kang nitahken badanira

Lawan dipun awaspadha

Asor unggul waras lara

Utawa beja cilaka

Urip utawa antaka

Jangan kurang bersyukur

Terhadap apa yang menjadi takdirmu

Kalau dari Tuhan yang Maha Mulya

Yang menciptakan dirimu

Menjadikan tindakan yang hati-hati

Kalah-Menang, Sehat-Sakit

Atau Keberuntungan-Kesengsaraan

Hidup atau Mati

Kelompok Watak yang pertama, Watak Hina yaitu watak yang selalu meminta baik cara kasar: merampas dan menggasak atau cara halus. Watak yang malas, sombong, membuat susah sesama manusia dan lingkungan termasuk Bumi seisinya.

Watak yang kedua adalah Watak Madya Prasaja, Watak para Tani, Pedagang, Tukang, Ahli dan lainya yang sejatinya selalu mengupayakan rejeki yang berguna yang bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan terutama bagi negara.

Watak ketiga, Watak Satriya terpercaya, Watak para nayaka praja, pengasuh bangsa dan tentara negara yang selalu mengukir Budi, membenteng ”kardi” yang sudah menjadi ”Sesanggeman” atau ”Baju” untuk kepentingan Kokohnya Persatuan Bangsa dan Negara. Sedangkan wujud apa yang diperoleh, diserahkan pada Yang Maha Kuasa berdasar rasa percaya, Takut dan Asih bela negara sebagai sarana wujud bakti, yang bersikap ”Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe” (Bekerja Giat tanpa Pamrih), Ma’rifating Ma’rifat (Membuka jalan Ma’rifat Sejati).

Watak terakhir, keempat adalah Watak Brahmana Luhur. Watak para resi, begawan, pandita, sufi yang sejatinya selalu waspada budi, teliti, hati-hati, halus hati dan menolak pemberian dalam bentuk apapun.

PRAWACANA

Hong ilaheng
Hong ilaheng awigena mastu nama sidhem
Awigena mastu silah mring hyang jagad karana
Sirantandha kawisesaning bisana
Sana sinawung langen wilapa estu
maksih lestantun lampahing budya
jinatur tutur katela tela tulat mrih lapdeng paradya
winursita ngupama parameng niskara
karana dya tumeyeng jaman purwa
winisuda trah ingkang dinama dama pinardi tameng lelata
mangkya tekap wasananing gupita
tan wun renggeng pralambang hatumpa-tumpa
panggung panggeng panggunggung sang murweng kata