title=
“Selamat pagi pak” , sapaan rutin setiap pagi ……. 
semua orang yg berpapasan denganku akan membongkokkan badannya.

Aku tak suka itu, penghormatan berlebihan.
Aku selalu tepuk pundak mereka dan menyapa satu persatu.
Ya, semua mengenalku sebagai org yang egaliter.
Tambahan lagi aku dikenal jujur dan lurus,  paling tidak seperti yg ditulis Dahlan Iskan  pada autogram dibuku Ganti Hati yang diberikannya padaku.

Waktu itu………, ketika seorang pensiunan berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun, Orang akan berkata, biarkan saja dia, waktu aktif dia sombong dan menekan bawahannya.
Akupun termasuk satu dari ratusan orang yang berpendapat begitu, dan dengan yakin membayangkan kelak aku pasti akan disapa dan dibantu kala membutuhkan oleh generasi penerusku.

Kini……., aku sudah jadi pensiunan yang berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun.
Orang tidak mengenalku…, begitu aku menghibur diriku untuk mengesahkan kejadian tadi.

Tapi telingaku terbuka dan tidak bisa menghindar untuk mendengar kata2 yang terarah padaku.

….. Dia dulu baik dan mempunyai sifat ngemong, tapi beliau sekarang sudah tua dan hanya merepotkan kita saja.

….. Dia orang jujur, tidak seharusnya datang pada kita, dan minta tolong, cari kerja pula.
….. [SHM]

 title=Dari jendela rawat inap ward 68 SGH, terlihat lalu lalang orang yang datang memasuki gedung dan yang keluar. Orang yang didorong dikursi roda, yang tertatih berjalan dengan tongkat, yang tua dan yang muda, yang berwajah kuyu dan yang ceria berbaur menjadi satu memenuhi lorong masuk blok 4, jalur masuk paling aksesible dari Outram Park Station ke SGH. Satu hal yg sama, mereka yang berwajah kuyu mencari kesembuhan mereka ingin memperpanjang kehidupan. Ada juga kelompok lain, yang berwajah ceria, menanti kehadiran, kehidupan baru dari generasi penerusnya.

Kedua kelompok ini sebenarnya menyadari (atau tidak?), bahwa grafik kehidupan dimulai dititik berordinat nol, kemudian naik ke puncak dan berakhir dititik berordinat nol pula. Inilah istimewanya kehidupan. Orang memahami bahwa nol kembali ke nol, tetapi digrafik antara yang menuju puncak dan menuruni puncak, tetap saja manusia berpacu ingin mengumpulkan harta, kehormatan dsb, yang kemudian pada saat mencapai titik nol, harus mereka lepaskan, mereka sadari itu tetapi inilah keanehan. Orang berjuang mencapai puncak, wajar, orang berjuang saat menuju ordinat nol, tidak wajar, krn akan sesuatu didapat dan kemudian hilang begitu saja. Tetapi yg tdk wajar itulah yg dilakukan oleh makhluk yang namanya manusia, bahkan kalau perlu, lebih tdk wajar lagi, menyingkirkan pesaing atau org yg ditengarai bisa menghambat usahanya….. [penggalan tulisan Bapak Guru Saya: Sarwono Hardjomuljadi]

 title=Saat berdiskusi dengan isteri tercinta, betapa Saya menjadi “Alien” di Dunia saat ini, memang sungguh menggelikan. Betapa tidak?

Isteri: Pak, dalam hidup itu semua harus direncanakan.

Saya: Untuk apa? sedangkan Hidup kita saja tidak tahu kapan “berhentinya”. Memang mau bicara apa ini?Isteri: Kita harus mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak, asuransi kesehatan, dll. Dan semua itu harus ada pos-posnya.
Saya: Lha kalau saya tiba-tiba sakit, dan butuh biaya cukup besar, apa manfaatnya untuk “pos-pos” itu? Jangan-jangan malah tidak bisa diambil atau berkurang karena belum saatnya diambil. Karena asuransipun pilih-pilih penyakit. Sedang saya tidak pernah “pesan” penyakit.

Isteri: Jaman sekarang memang “harusnya” begitu.

Saya: Siapa yang mengharuskan? Kata harus itu karena sama dengan arus, yang menurut saya arus itu justru “rumit”. Saya suka contoh ZEN dalam menyampaikan tentang “hidup itu”. Ketika seorang diserang Harimau disisi atas jurang, sedang didasar jurang ada ular yang sangat besar siap mencaplok juga. Dalam bergelantungan diakar pohon, akar pohonpun digigit 2 ekor tikus yang siap memutuskan akar pohon itu. Dalam kondisi yang serba tak punya kuasa, ada sarang tawon yang menetes madu yang sangat manis. Maka dicicipi dengan penuh gembira madu itu. Lalu dimana letak khawatir itu?

Jakarta, 30 Agustus 2012, 21.43

 title= Berikut ini adalah pembicaraan antara Gareng dan Petruk , saat Goro-Goro dijaman Tanah Jawa mengalami Era Baru.

Petruk : ada yang ingin saya tanyakan kepada Kang Gareng, sebenarnya apa pengertian dari ”slendro”?
Ada yang bilang kepada saya,orang Slendro itu memiliki kecendrungan tidak sama dengan kebanyakan orang pada umumnya. Banyak orang menyebutnya sebagai pemberontak atau keluar dari pakem, itu yang pertama. Yang kedua, ada yg menyebutkan ”Kamu jangan punya keinginan untuk memperdalam ilmu tasawuf, karena tasawuf dijaman sekarang, berbeda dengan tasawuf dijaman Rasulullah. Tasawuf sekarang lebih condong terhadap ke ilmu kebathinan, sehingga keluar dari jalan Allah.”

Gareng : Petruk Adiku, saya berikan jawaban ilmiah dulu. “Slendro” adalah nada dasar asli dalam gamelan Jawa (Pentatonis). Semenjak datangnya Islam di Jawa, maka muncul nada “Pelog” (yang berarti pelo atau miring). Jadi nada dasar Slendro adalah nada JEJEG atau Lurus.

 title=Setiap insan selalu berusaha memerankan menjadi orang baik, bahkan terkadang justru secara tidak sadar telah menyakiti hati orang lain. Bagaimana tidak? cobalah tengok apa yang pernah manusia lakukan untuk menjadi orang baik. Pertama, menempatkan diri pada posisi baik dan menempatkan orang lain pada posisi buruk, jelek dan rusak. Kedua, setelah diri ini jadi orang baik, dan orang lain disisi yang lain maka tentu sudah punya “pemikiran” bahwa orang lain itu buruk. Ketiganya, menjadi manusia yang serba benar, super, dan tiada cela.

Manusia yang diawali “ingin” maka siap-siap saja memperbudak hasrat diri untuk membuat tujuan-tujuan semu yakni “menjadi” yang baik. Dampaknya orang lain jadi korban. Lah kok malah membingungkan? Ya memang manusia sering merasa bingung, bimbang dan serba ragu-ragu. Karena manusia sering “mencipta” sesuatu yang bukan esensinya. Menjadi lebih “pintar” dari Tuhannya. Mencipta jalan-jalan baik untuk mencapai Surganya. Apakah dengan jalan nafsu seperti itu bisa mendapatkan RidhoNYA? Ah, sok tau lo..

Cinta dapat menimbulkan rasa takut, juga dengan cinta, sekaligus menimbulkan rasa Berani. Bukan takut karena takut, bukan juga takut karena Hati-hati, melainkan Berani untuk Hati-hati.

Kebanyakan Manusia pada era sekarang cenderung “takut” untuk menjadi diri pribadi yang tangguh. Ketakutan menjadi “Insan Mandiri”, dan “hobi” untuk berkelompok, menyebabkan “Akal dan Mata Hati” menjadi tidak terasah dengan baik. Ciri Kemandirian adalah keberanian untuk menghadapi “Kematian yang diridhoi Tuhan”!

Setiap Manusia yang Hidup Pasti akan mengalami Kematian, sebab apa yang kita makanpun makhluk2 yang telah mati, baik nabati maupun hewani. Bahkan benda2 yang dikejar dan dibanggakan pun benda Mati atau akan mati. Hidup ini Semu. Beranilah untuk Hati-hati.

Seberapa pantaskah Manusia lebih mencintai Surga, sedangkan Surga hanyalah sebagian dari berbagai ciptaanNya?! Kenapa memilih ciptaan, bukan Penciptanya? Bukankah itu sama saja dengan Cinta Dunia, Karena nyata bahwa Dunia adalah hasil karyaNya!

GORESAN TANPA MAKNA

Untuk Sebuah goresan tanpa makna…
Untuk Kendaraan yang mungkin sebentar lagi terjual…
Untuk Pribadi yang selamanya tidak mampu memiliki Ruh dalam Diri…
Untuk Kefanaan dalam Kesunyaan…

AKULAH YANG MENCIPTA SURGA DAN NERAKA!

Surga dan Neraka adalah kita yang menciptakan! Bila sedang dalam “berkelebihan” tapi merasa serba “kekurangan” maka kita sedang mencipta Neraka. Begitu juga sebaliknya. Maka ini bisa merasakan betapa Shirratal Mustaqim itu Jalan yang sangat lebar sekali, lega dan tiada penghalang!

ORANG BAIK

Manusia yang mengaku “Orang Baik” harusnya mensyukuri dimana disekitarnya masih ada yang dianggap “Orang Jahat”. Simbiosis mutualisma, Orang baik membutuhkan orang jahat. Bagaimana bisa disebut Orang baik bila semuanya Orang Baik?

Ketika sehabis rapat “Detikan”, 4 Malaikat masih kumpul membicarakan tentang manusia. Walau kesannya tidak penting tapi pembicaraan itu sangat hangat dan Akrab.

Malaikat I angkat bicara “Kenapa manusia hanya memilih sesuatu yang disukai saja, padahal Tuhan punya Kebahagiaan sekaligus Kesedihan, punya kemenangan sekaligus kekalahan, dan Tuhan punya Surga dan Neraka?”

Malaikat II menjawab, “Yah begitulah manusia, Ketika diberi oleh Tuhan hal yang buruk maka kecewa lalu mengeluh, dan ketika diberi oleh Tuhan yang sesuai doanya, lupa bersyukur.”

Malaikat III bilang, “Ah itu khan Manusiawi!”

Dalam budaya Nusantara ini dikenal pada pewayangan,seorang satriya menjalankan aktifitasnya sebagai satriya, pandita sebagai pandita, raja sebagai raja, tidak bercampur. Contoh ini ada di Pandawa, dimana ketentraman jiwa ada disana. Berbeda sekali dengan Kurawa. Prinsipnya adalah “boleh bergabung, tetapi tidak bercampur”. Dalam pemerintahanpun berlaku berbagi keahlian, dan penggabungan diantaranya memberikan “Kekuatan”. Berbeda bila bercampur. Polisi menjadi koruptor, lalu siapa yang menangkap koruptornya polisi itu? Gusti Allah paringana ngapura!

Muhammad adalah contoh yang “manusiawi”. Saat kecil, berlaku seperti layaknya anak-anak, ketika remaja hingga menjelang dewasa adalah remaja yang tumbuh sebagai remaja yang “dipercaya”. Saat Dewasa berdagang dengan sifat amanah dan jujur.Diusia 40 tahun barulah menemukan Tuhannya. Prosesnya Natural sekali, namun punya niatan ingin memperbaiki fungsi dalam hidup yang hanya fana itu. Setelah usia 40 tahun itu, Muhammad SAW berusaha melepas semua atribut yang selama ini melekat dalam dirinya yaitu selaku pedagang.

Seorang Anak berusia 5 Tahun bertanya pada bapaknya, “Dimana Tuhan itu berada?” Tentu saja sang Bapak kelabakan, sebab bapaknya sendiri tidak pernah bertemu dengan Tuhannya. Bapaknya menjawab dengan galak, “Hus! Nanya kok yang aneh-aneh!”. Lanjut sang Bapak lagi, “Ya Tuhan itu ada di atas sana!”. Anaknya makin bingung, sebab yang disampaikan bapaknya berupa definisi yang tidak dimengerti si anak. Diawali dari marah, lalu di atas sana. Dalam benak si anak tentu menyatakan, wah Tuhan ini menakutkan ya, sampai si Bapak marah ketika ditanya keberadaannya. Dan jawaban sang Bapak selanjutnya mengandung pernyataan yang bakal sama dengan pertanyaan sebelumnya, yaitu “di atas sana!”. Nah, dimana lagi itu?

Orang tua sering takut dengan pertanyaan dan pernyataan tentang keberadaan Tuhan itu, walau di Al Quran banyak mengungkapkan keberadaan Sang Khaliq ini. Orang tua ini marah karena “Ketidaktahuan”, sebab Syahadat yang dibaca “hanya” sampai sebatas mulut, sholat yang dilakukan hanya sebatas “netepi kewajiban” (membatalkan Kewajiban itu), dan ibadah yang lain juga sama, sebatas tiru-tiru tidak jelas juntrungnya. Pada akhirnya Tuhannya itu yang diminta menyiapkan Kalkulator untuk semua amalan-amalan yang mengedepankan Pahala atau “reward”. Makanya orang tua itu tidak bakal kenal dengan Tuhannya.