SURAT SEORANG PENSIUNAN

 title=
“Selamat pagi pak” , sapaan rutin setiap pagi ……. 
semua orang yg berpapasan denganku akan membongkokkan badannya.

Aku tak suka itu, penghormatan berlebihan.
Aku selalu tepuk pundak mereka dan menyapa satu persatu.
Ya, semua mengenalku sebagai org yang egaliter.
Tambahan lagi aku dikenal jujur dan lurus,  paling tidak seperti yg ditulis Dahlan Iskan  pada autogram dibuku Ganti Hati yang diberikannya padaku.

Waktu itu………, ketika seorang pensiunan berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun, Orang akan berkata, biarkan saja dia, waktu aktif dia sombong dan menekan bawahannya.
Akupun termasuk satu dari ratusan orang yang berpendapat begitu, dan dengan yakin membayangkan kelak aku pasti akan disapa dan dibantu kala membutuhkan oleh generasi penerusku.

Kini……., aku sudah jadi pensiunan yang berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun.
Orang tidak mengenalku…, begitu aku menghibur diriku untuk mengesahkan kejadian tadi.

Tapi telingaku terbuka dan tidak bisa menghindar untuk mendengar kata2 yang terarah padaku.

….. Dia dulu baik dan mempunyai sifat ngemong, tapi beliau sekarang sudah tua dan hanya merepotkan kita saja.

….. Dia orang jujur, tidak seharusnya datang pada kita, dan minta tolong, cari kerja pula.
Sebagai orang jujur, dia harusnya menyadari bahwa kita punya prosedur dan dia harus mengikuti dan mematuhi.

Prosedur adalah tameng paling sakti untuk menghindar bagi para pejabat.

Hatiku miris mendengarnya, tetapi ini adalah kenyataan yang harus dihadapi dan diterima.

Kini semua berubah, baik atau buruk seseorang sudah tidak lagi jadi pertimbangan. Pertimbangan bagi suatu hubungan manusia yang dinamai persahabatan adalah berguna atau tidaknya seseorang bagi Si Manusia.

Aku harus berjalan tegak, pensiunan harus mamahami itu, walaupun berat.

Jakarta, 22 November 2012
Tulisan Guru saya: Sarwono Hardjomuljadi