Kesehatan Untuk Umur Panjang, Lalu?

Dari jendela rawat inap ward 68 SGH, terlihat lalu lalang orang yang datang memasuki gedung dan yang keluar. Orang yang didorong dikursi roda, yang tertatih berjalan dengan tongkat, yang tua dan yang muda, yang berwajah kuyu dan yang ceria berbaur menjadi satu memenuhi lorong masuk blok 4, jalur masuk paling aksesible dari Outram Park Station ke SGH.  Satu hal yg sama, mereka yang berwajah kuyu mencari kesembuhan mereka ingin memperpanjang kehidupan. Ada juga kelompok lain, yang berwajah ceria, menanti kehadiran, kehidupan baru dari generasi penerusnya.

Kedua kelompok ini sebenarnya menyadari (atau tidak?), bahwa grafik kehidupan dimulai dititik berordinat nol, kemudian naik ke puncak dan berakhir dititik berordinat nol pula. Inilah istimewanya kehidupan. Orang memahami bahwa nol kembali ke nol, tetapi digrafik antara yang menuju puncak dan menuruni puncak, tetap saja manusia berpacu ingin mengumpulkan harta, kehormatan dsb, yang kemudian pada saat mencapai titik nol, harus mereka lepaskan, mereka sadari itu tetapi inilah keanehan. Orang berjuang mencapai puncak, wajar, orang berjuang saat menuju ordinat nol, tidak wajar, krn akan sesuatu didapat dan kemudian hilang begitu saja. Tetapi yg tdk wajar itulah yg dilakukan oleh makhluk yang namanya manusia, bahkan kalau perlu, lebih tdk wajar lagi, menyingkirkan pesaing atau org yg ditengarai bisa menghambat usahanya.

Sebagai pengamat aku menyadari hal itu, tetapi sebagai pelaku aku sama saja dengan yang lain, aku terbawa arus, bisa dipahami, aku hanyalah bagian dari komunitas yang namanya manusia. Kalau aku berperilaku berbeda, orang akan menjulukiku gila. Dalam mempertahankan hidup, dengan arti luas, bukan hanya fisik tetapi temasuk didalamnya kekayaan, kehormatan, dsb, manusia akan mencari dukungan, biasanya dari sesama manusia yang mempunyai kebisaan, kekuatan atau kekuasaan. Orang akan berebut mengangkat nama yg dibutuhkan dukungannya, kalau perlu dengan biografi yang direkayasa. Setelah tidak dibutuhkan lagi, seperti salah satu jenis walang (jawa), bahkan jantannya akan ditelannya.

Tragis, contoh sederhana, waktu obral buku Gramedia di Palmerah, buku murah rata-rata Rp. 2.000,- berserakan dilantai, diantaranya biografi Mathori Abdul Jalil, semua orang tahu siapa dia, Wakil Ketua MPR, Ketua PKB, seorang pemikir moderat,  yang sangat dihormati dan disegani, saat “bisa dimanfaatkan”. Waktu itu, sebelum beliau meninggal, tapi sdh tergeletak di rumah, hanya tergolek di ranjang. Siapa yg ingat akan beliau?, jawabnya “tidak ada”. Ini bukti dari pernyataan saya di atas, pada zaman ini, perlu bukti utk tiap penggal pendapat.

Tulisan Bapak Guru Saya: Sarwono Hardjomuljadi