Perencanaan Hidup, Perlukah?

 title=

Saat berdiskusi dengan isteri tercinta, betapa Saya menjadi “Alien” di Dunia saat ini, memang sungguh menggelikan. Betapa tidak?
Isteri: Pak, dalam hidup itu semua harus direncanakan.
Saya: Untuk apa? sedangkan Hidup kita saja tidak tahu kapan “berhentinya”. Memang mau bicara apa ini?Isteri: Kita harus mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak, asuransi kesehatan, dll. Dan semua itu harus ada pos-posnya.

Saya: Lha kalau saya tiba-tiba sakit, dan butuh biaya cukup besar, apa manfaatnya untuk “pos-pos” itu? Jangan-jangan malah tidak bisa diambil atau berkurang karena belum saatnya diambil. Karena asuransipun pilih-pilih penyakit. Sedang saya tidak pernah “pesan” penyakit.

Isteri: Jaman sekarang memang “harusnya” begitu.

Saya: Siapa yang mengharuskan? Kata harus itu karena sama dengan arus, yang menurut saya arus itu justru “rumit”. Saya suka contoh ZEN dalam menyampaikan tentang “hidup itu”. Ketika seorang diserang Harimau disisi atas jurang, sedang didasar jurang ada ular yang sangat besar siap mencaplok juga. Dalam bergelantungan diakar pohon, akar pohonpun digigit 2 ekor tikus yang siap memutuskan akar pohon itu. Dalam kondisi yang serba tak punya kuasa, ada sarang tawon yang menetes madu yang sangat manis. Maka dicicipi dengan penuh gembira madu itu. Lalu dimana letak khawatir itu?

Jakarta, 30 Agustus 2012, 21.43