Pandawa Lima dan Konsep Keberadaan Manusia

 title= Oleh: Haryo K. Buwono

Dalam pewayangan pada kisah Barata Yudha dan Maha Barata, terceritakan bahwa ada 2 keluarga yang berbeda prinsip dalam menjalani hidup. Pandawa dan Kurawa. Pandawa sesungguhnya terdiri dari 6 saudara yaitu Karna, Puntadewa, Wrekudara, Janaka, Nakula dan Sadewa. Namun Karna kemudian dibuang / diasingkan yang pada akhirnya berpihak pada Kurawa di Hastina Pura. Keberpihakan Karna dilandasi pada Wilayah. Kadipaten Awangga yang dipimpinnya ini, merupakan bagian dari Hastina Pura. Unik, hanya karena wilayah inilah maka saat Perang Barata (Barata Yudha / Perangnya darah Prabu Barata), Adipati Karna berperang melawan saudaranya sendiri.

Cerita ini tentu berkaitan dengan Filsafat Jawa tentang Pandawa ini. Adipati Karna bukan Pandawa, karena Pandawa berarti Lima. Bila ada Adipati Karna maka bukan lagi Pandawa, karena berjumlah 6 saudara, maka Adipati Karna dipisahkan agar tetap Pandawa (Lima). Adipati Karna ini dilahirkan cukup unik yaitu dari telinga. Ceritanya seolah mengada-ada namun inilah Filsafat sejati tentang hidup manusia. Jenang – Jeneng – Jumeneng artinya Rejeki (Jenang) itu datang bila manusia mampu menjaga namanya (jeneng) maka hidupnya akan tenang / tawaduk (Jumeneng). Dari prasyarat ini tentu semua berawal dari JENENG. Bagaimana kita bisa mengenali diri kita bila Jeneng kita tidak dikenali. Bagaimana kita tahu Jeneng Kita bila tanpa dipanggil, dipanggil ini berkonotasi pada Telinga. Dari Telinga inilah berawal kita berbeda dengan lainnya. Maka sebelum Pandawa keluarlah Karna (Telinga).

Pandawa, yang Lima. Puntadewa sebetulnya proses kelahirannya adalah setelah kelahiran Wrekudara. Ya, Wrekudara lahir dalam bentuk bungkus. Wreku itu artinya pohon. Dan Pohon berarti Kayon, Kayon berarti Hidup. Hidup manusia itu harus dalam bentuk bungkus. Bungkus manusia ini adalah Tubuh yang kokoh dan kuat. Maka Wrekudara digambarkan dengan badan yang gagah, besar dan tinggi. Namun Kondisi bungkus ini dianggap belum lahir, hingga kelahiran sang Puntadewa. Puntadewa artinya pepintaning dewa (keinginan / harapan Dewa). Jadi, walaupun Wrekudara sudah lahir namun tidak bisa lahir (keluar dari bungkus bila belum ada Pepintaning Dewa). Setelah ada pepintaning dewa maka wrekudarapun keluar dari bungkusnya. Kalau ini diperdalam dalam ilmu makrifat, hidup sejati itu bila manusia mampu keluar dari bungkusnya (yaitu badan wadagnya). Badan Wadag ini sesungguhnya yang membatasi segala untuk mencapai pepintaning dewa (innalillahi wa innailaihi rojjiun).

Demikian keterkaitan sang Wrekudara dan Puntadewa. Puntadewa ini bersifat jujur. Benar, karena Bilakah Dewa berbohong, Bilakah Tuhan Ingkar? Sifat inilah yang kemudian melekat pada konsep nama Puntadewa. Wrekudara juga memiliki sifat kuat dan kokoh, namun karena inilah maka Wrekudara mencari kekuatan sejati. Nah, disaat itulah Wrekudara menemukan Jagad Kecilnya yaitu Dewa Ruci. Ya, bila ini dikaitkan dengan manusia, jagad kecil ini identik dengan ‘arsy atau hati. Esensi keduanya (Puntadewa dan Wrekudara) ini sangat kuat, maka keduanya berbentuk tanpa “keinginan”, tanpa hasrat.

Penggambaran tentan Pandawa ini begitu dalam bila kita mampu menggali makna dibalik setiap kejadian, dan filosofinya. Pandawa adalah cerminan keberadaan manusia. Yang nantinya akan berperang dengan saudaranya sendiri yaitu Kurawa. Kurawa adalah gambaran tentang hasrat-hasrat, nafsu-nafsu yang cenderung mengganggu “Kembali”nya manusia pada Sang Penciptanya.