Goresan Tanpa Makna [Jilid 2]

Cinta dapat menimbulkan rasa takut, juga dengan cinta, sekaligus menimbulkan rasa Berani. Bukan takut karena takut, bukan juga takut karena Hati-hati, melainkan Berani untuk Hati-hati.

Kebanyakan Manusia pada era sekarang cenderung “takut” untuk menjadi diri pribadi yang tangguh. Ketakutan menjadi “Insan Mandiri”, dan “hobi” untuk berkelompok, menyebabkan “Akal dan Mata Hati” menjadi tidak terasah dengan baik. Ciri Kemandirian adalah keberanian untuk menghadapi “Kematian yang diridhoi Tuhan”!

Setiap Manusia yang Hidup Pasti akan mengalami Kematian, sebab apa yang kita makanpun makhluk2 yang telah mati, baik nabati maupun hewani. Bahkan benda2 yang dikejar dan dibanggakan pun benda Mati atau akan mati. Hidup ini Semu. Beranilah untuk Hati-hati.

Seberapa pantaskah Manusia lebih mencintai Surga, sedangkan Surga hanyalah sebagian dari berbagai ciptaanNya?! Kenapa memilih ciptaan, bukan Penciptanya? Bukankah itu sama saja dengan Cinta Dunia, Karena nyata bahwa Dunia adalah hasil karyaNya!

Manusia sering mendongakkan kepalanya demi ke”aku”an diri. Mulai dari harta, jabatan hingga beribadah. Cara maupun ritual beragamapun juga sering dijadikan pertunjukkan atas ke”aku”an itu. Mulai dari Stiker2 petunjuk bahwa “Aku manusia Beragama” hingga tulisan “Saya Shalat agar Masuk Surga”. Mungkin itu jalan yang harus ditempuh masing2 individu untuk menghadapNya.

Ketika Pagi menggantikan Malam dan ketika Bekerja menggantikan Liburan, selalu silih berganti, tak peduli engkau jenuh, senang ataupun gundah, “That’s Life!”

Tuhan, Aku merindukanMu.
Menarilah Bersamaku!
Kan Ku curahkan seluruh rasa hatiku!
Ku kan suguhkan tarian yang cantik untukmu, atas riangku!

Ketika Zaman Telah berganti, dimana Jalan yang Haq telah Engkau tunjukan dengan Terang benderang, walau jalan itu, tak semudah untuk aku jalani. Dan aku sedang menikmati itu.