Tuhan ada karena Aku ada
Tuhan ada karena Aku membutuhkanNya
Tuhan ada karena Aku memikirkanNya
Tuhan ada karena semesta perwujudanNya

Saat aku butuh Dia
Maka aku panggil Dia
Akankah Dia tinggalkan Aku?
Tidak, Dia dekat dengan urat leherku

Aku panggil Allahu Akbar
Karena aku merasa sangat kecil
Aku panggil Allah Maha Besar
Karena aku tak mampu angkuh

Ketika mendengarkan cerita tentang Rahwana dalam Pupuh Ramayana, tentu kita selalu berkonotasi negatif karena sikapnya yang telah menculik Dewi Sinta dari Si Rama Wijaya. Semua tentu sepakat tentang cerita itu atas segala kejahatan Rahwana. Anggapan itu terus terang Keliru. Tokoh yang sepatutnya ditiru bukanlah Rama Wijaya, melainkan Rahwana. Lho Kenapa?

 title=
“Selamat pagi pak” , sapaan rutin setiap pagi ……. 
semua orang yg berpapasan denganku akan membongkokkan badannya.

Aku tak suka itu, penghormatan berlebihan.
Aku selalu tepuk pundak mereka dan menyapa satu persatu.
Ya, semua mengenalku sebagai org yang egaliter.
Tambahan lagi aku dikenal jujur dan lurus,  paling tidak seperti yg ditulis Dahlan Iskan  pada autogram dibuku Ganti Hati yang diberikannya padaku.

Waktu itu………, ketika seorang pensiunan berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun, Orang akan berkata, biarkan saja dia, waktu aktif dia sombong dan menekan bawahannya.
Akupun termasuk satu dari ratusan orang yang berpendapat begitu, dan dengan yakin membayangkan kelak aku pasti akan disapa dan dibantu kala membutuhkan oleh generasi penerusku.

Kini……., aku sudah jadi pensiunan yang berjalan tertatih dan tidak ada yang menyapa bahkan menengok sekalipun.
Orang tidak mengenalku…, begitu aku menghibur diriku untuk mengesahkan kejadian tadi.

Tapi telingaku terbuka dan tidak bisa menghindar untuk mendengar kata2 yang terarah padaku.

….. Dia dulu baik dan mempunyai sifat ngemong, tapi beliau sekarang sudah tua dan hanya merepotkan kita saja.

….. Dia orang jujur, tidak seharusnya datang pada kita, dan minta tolong, cari kerja pula.
….. [SHM]

 title=Dari jendela rawat inap ward 68 SGH, terlihat lalu lalang orang yang datang memasuki gedung dan yang keluar. Orang yang didorong dikursi roda, yang tertatih berjalan dengan tongkat, yang tua dan yang muda, yang berwajah kuyu dan yang ceria berbaur menjadi satu memenuhi lorong masuk blok 4, jalur masuk paling aksesible dari Outram Park Station ke SGH. Satu hal yg sama, mereka yang berwajah kuyu mencari kesembuhan mereka ingin memperpanjang kehidupan. Ada juga kelompok lain, yang berwajah ceria, menanti kehadiran, kehidupan baru dari generasi penerusnya.

Kedua kelompok ini sebenarnya menyadari (atau tidak?), bahwa grafik kehidupan dimulai dititik berordinat nol, kemudian naik ke puncak dan berakhir dititik berordinat nol pula. Inilah istimewanya kehidupan. Orang memahami bahwa nol kembali ke nol, tetapi digrafik antara yang menuju puncak dan menuruni puncak, tetap saja manusia berpacu ingin mengumpulkan harta, kehormatan dsb, yang kemudian pada saat mencapai titik nol, harus mereka lepaskan, mereka sadari itu tetapi inilah keanehan. Orang berjuang mencapai puncak, wajar, orang berjuang saat menuju ordinat nol, tidak wajar, krn akan sesuatu didapat dan kemudian hilang begitu saja. Tetapi yg tdk wajar itulah yg dilakukan oleh makhluk yang namanya manusia, bahkan kalau perlu, lebih tdk wajar lagi, menyingkirkan pesaing atau org yg ditengarai bisa menghambat usahanya….. [penggalan tulisan Bapak Guru Saya: Sarwono Hardjomuljadi]

 title=Saat berdiskusi dengan isteri tercinta, betapa Saya menjadi “Alien” di Dunia saat ini, memang sungguh menggelikan. Betapa tidak?

Isteri: Pak, dalam hidup itu semua harus direncanakan.

Saya: Untuk apa? sedangkan Hidup kita saja tidak tahu kapan “berhentinya”. Memang mau bicara apa ini?Isteri: Kita harus mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak, asuransi kesehatan, dll. Dan semua itu harus ada pos-posnya.
Saya: Lha kalau saya tiba-tiba sakit, dan butuh biaya cukup besar, apa manfaatnya untuk “pos-pos” itu? Jangan-jangan malah tidak bisa diambil atau berkurang karena belum saatnya diambil. Karena asuransipun pilih-pilih penyakit. Sedang saya tidak pernah “pesan” penyakit.

Isteri: Jaman sekarang memang “harusnya” begitu.

Saya: Siapa yang mengharuskan? Kata harus itu karena sama dengan arus, yang menurut saya arus itu justru “rumit”. Saya suka contoh ZEN dalam menyampaikan tentang “hidup itu”. Ketika seorang diserang Harimau disisi atas jurang, sedang didasar jurang ada ular yang sangat besar siap mencaplok juga. Dalam bergelantungan diakar pohon, akar pohonpun digigit 2 ekor tikus yang siap memutuskan akar pohon itu. Dalam kondisi yang serba tak punya kuasa, ada sarang tawon yang menetes madu yang sangat manis. Maka dicicipi dengan penuh gembira madu itu. Lalu dimana letak khawatir itu?

Jakarta, 30 Agustus 2012, 21.43

 title= Berikut ini adalah pembicaraan antara Gareng dan Petruk , saat Goro-Goro dijaman Tanah Jawa mengalami Era Baru.

Petruk : ada yang ingin saya tanyakan kepada Kang Gareng, sebenarnya apa pengertian dari ”slendro”?
Ada yang bilang kepada saya,orang Slendro itu memiliki kecendrungan tidak sama dengan kebanyakan orang pada umumnya. Banyak orang menyebutnya sebagai pemberontak atau keluar dari pakem, itu yang pertama. Yang kedua, ada yg menyebutkan ”Kamu jangan punya keinginan untuk memperdalam ilmu tasawuf, karena tasawuf dijaman sekarang, berbeda dengan tasawuf dijaman Rasulullah. Tasawuf sekarang lebih condong terhadap ke ilmu kebathinan, sehingga keluar dari jalan Allah.”

Gareng : Petruk Adiku, saya berikan jawaban ilmiah dulu. “Slendro” adalah nada dasar asli dalam gamelan Jawa (Pentatonis). Semenjak datangnya Islam di Jawa, maka muncul nada “Pelog” (yang berarti pelo atau miring). Jadi nada dasar Slendro adalah nada JEJEG atau Lurus.

 title= Anak Kunti Nalibrata yang ke empat adalah Janaka. Janaka ini digambarkan sesuatu yang indah, menarik dan mendambakan. Keindahan Janaka ini digambarkan seolah semua wanita di Jagad berniat memilikinya, termasuk diantaranya isteri dari Puntadewa, Drupadi. Walaupun sudah bersuami dari kakak Kandungnya, namun jiwanya tetap mencintai Janaka. Janaka adalah diambil dari kata JANAH. Janah artinya Surga / Swarga. Janah ini hinggap di dalam Pikiran / Benak. Sesungguhnya bila Tubuh ini (Wrekudara dan Puntadewa) saja tanpa Janaka tentu tidak akan pinga “keinginan” / nafsu. Janaka yang digambarkan indah ini, tentulah yang banyak disukai wanita. Ya, wanita ini adalah bagian dari keindahan maka tidak salah bila wanita menyukai Keindahan dan mendambakan, bahkan dengan menempuh “bagaimanapun caranya”. Janah ini tempat yang indah, maka Janaka digambarkan seperti Lanange Jagad. Falsafah yang diambil dari Konsep Janaka ini adalah Kreatifitas yang berazas ilmu pengetahuan. Maka penggambaran, pola pikir dan kreasi terletak pada suatu tempat yang disebut jaringan otak. Tanpa penggerak otak maka manusia tidak bisa disebut hidup. Hidup tanpa kreasi, tanpa seni, maka bukan disebut hidup. Hidup artinya bermakna. Bagaimana bisa bermakna, bila manusia mampu ber- cipta, rasa, karsa. Berguna bagi sesama. Dan disinilah tercipta Surga-surga (angan-angan serba indah) dan berusaha mewujudkannya.

Sedang Apa Kau

Dalam Berbagai Kesempatan
Bahkan dalam sudut kesendirian
Selalu munculkan bayangan sosok mereka
Tinggalkan kenangan yang tak nyata

berjajar susunan batu Nisan yang indah
kutertunduk bersisikan tumpukan batu bertanda
kuusapkan tangan kanan membelah rerumputan
kuredupkan mata beriringkan doa

Kumenyatu dengan alam bersama angan
Kumenanya sedang apa kau disana
Terbesitkan nuansa rasa samsara bersama
Teriangkan atas bisikan kebahagian bersamaNYA

HKB, Jakarta, 9 Agustus 2011

 title=Setiap insan selalu berusaha memerankan menjadi orang baik, bahkan terkadang justru secara tidak sadar telah menyakiti hati orang lain. Bagaimana tidak? cobalah tengok apa yang pernah manusia lakukan untuk menjadi orang baik. Pertama, menempatkan diri pada posisi baik dan menempatkan orang lain pada posisi buruk, jelek dan rusak. Kedua, setelah diri ini jadi orang baik, dan orang lain disisi yang lain maka tentu sudah punya “pemikiran” bahwa orang lain itu buruk. Ketiganya, menjadi manusia yang serba benar, super, dan tiada cela.

Manusia yang diawali “ingin” maka siap-siap saja memperbudak hasrat diri untuk membuat tujuan-tujuan semu yakni “menjadi” yang baik. Dampaknya orang lain jadi korban. Lah kok malah membingungkan? Ya memang manusia sering merasa bingung, bimbang dan serba ragu-ragu. Karena manusia sering “mencipta” sesuatu yang bukan esensinya. Menjadi lebih “pintar” dari Tuhannya. Mencipta jalan-jalan baik untuk mencapai Surganya. Apakah dengan jalan nafsu seperti itu bisa mendapatkan RidhoNYA? Ah, sok tau lo..

Cinta dapat menimbulkan rasa takut, juga dengan cinta, sekaligus menimbulkan rasa Berani. Bukan takut karena takut, bukan juga takut karena Hati-hati, melainkan Berani untuk Hati-hati.

Kebanyakan Manusia pada era sekarang cenderung “takut” untuk menjadi diri pribadi yang tangguh. Ketakutan menjadi “Insan Mandiri”, dan “hobi” untuk berkelompok, menyebabkan “Akal dan Mata Hati” menjadi tidak terasah dengan baik. Ciri Kemandirian adalah keberanian untuk menghadapi “Kematian yang diridhoi Tuhan”!

Setiap Manusia yang Hidup Pasti akan mengalami Kematian, sebab apa yang kita makanpun makhluk2 yang telah mati, baik nabati maupun hewani. Bahkan benda2 yang dikejar dan dibanggakan pun benda Mati atau akan mati. Hidup ini Semu. Beranilah untuk Hati-hati.

Seberapa pantaskah Manusia lebih mencintai Surga, sedangkan Surga hanyalah sebagian dari berbagai ciptaanNya?! Kenapa memilih ciptaan, bukan Penciptanya? Bukankah itu sama saja dengan Cinta Dunia, Karena nyata bahwa Dunia adalah hasil karyaNya!